Mau sampai kapan gue begini?
Bacanya sesek napas, karena dia menjelaskan panjang lebar, bahkan membanding-bandingkan gue sama sepupu gue yang notabene umurnya baru 24 tahun tapi udah jual barang-barangnya buat beliin pacarnya cincin nikah. Oh yeah, he's getting married this year. Bersamaan dengan sepupu cowok satu lagi yang seumuran gue. Hell yeah. I'm happy for them, walau ada rasa iri sedikit yang menampar. But I'm happy!
Balik lagi ke masalah tadi. Jadi intinya kakak gue melihat gue masih luntang lantung. Enggak ada usaha buat maju. Bahkan gue ditanya mau jadi apa gue 5 tahun lagi? Apa prospek yang mau gue tuju? Gue bingung. Iya ya, lima tahun dari sekarang gue mau jadi apa? (Saking bingungnya, gue sampai menanyakan ini ke sahabat-sahabat gue. Hahaha, lempar batu sembunyi tangan. Gue pengen lihat dari sisi mereka, yang rata-rata seumuran, mereka udah sejauh apa sih mikirnya?)
Akhirnya tumpahlah segala cerita sejujurnya. Walau nggak jujur banget juga sih. Tapi intinya ada beberapa hal yang memang membuat gue tetap bertahan. Dan itu akhirnya gue ceritain. Gue memang tadinya udah memplanning semuanya. Tapi apa daya sejak masalah Oktober lalu, gue masih harus menunggu sampai ada keputusan pasti.
Walau gitu gue nggak diem aja kok. Gue udah apply sana sini, yang mungkin bisa jadi 'cadangan' dikala keputusan nanti nggak gol.
Tapi gara-gara obrolan itu, gue semakin jelas. Jelas kalau mungkin memang gue harus ikhlas kalau pada akhirnya gue harus menyerah pada kenyataan, dan meninggalkan 'impian' gue disini. Back to the place where I belong. A place called home.
Sekarang gue punya deadline. Kalau sampai waktu itu masih belum ada kejelasan, gue harus memutuskan. Insya Allah sebelum waktunya habis sih, gue udah ada pencerahan kemana kaki ini harus melangkah.
Gue percaya kalau soal karir, gue belum terlambat. Insya Allah gue masih bisa mengejar mimpi-mimpi gue. Gue juga mulai semangat dengan kemarin sempat email-emailan lagi sama ex-deutscherin yang udah balik abis. Pengen bikin sesuatu barang. Ah seru! Juga sama sahabat gue Ardha. Ternyata mimpi kita sama. Ah gue semangat! Rasanya semua ide meluap-luap. Sampai pada tahap, gue baru ngerasa emang gue nggak bisa terus maksa bertahan. Lebih baik waktu gue yang disini lebih banyak bengong dan cuma nunggu, bisa dilakukan di rumah, sama orangtua selagi mereka masih bisa meluk dan ngomel-ngomelin gue, sama keponakan-keponakan gue yang mulai beranjak gede (aaahh I miss the lil' YOU, abang! you're growing too fast!). Mungkin akan lebih berarti kan?
Udah saatnya gue melepaskan keegoisan gue. Melepaskan semua ego gue disini, untuk lebih gunakan waktu berharga bersama orang-orang yang gue sayangi. Gue tau ini bakal berat banget. Gue harus meninggalkan dunia mimpi ini yang udah empat tahun gue jalanin, udah seperti rumah kedua. Tapi hidup gue terus berjalan, gue masih punya mimpi lain, karir. Mungkin gue harus ikhlas melepaskan satu mimpi gue untuk mendapatkan mimpi gue yang lain.
Well at least sekarang gue udah mulai ada bayangan kalau lima tahun lagi gue ada di Amerika sama suami gue, nemenin suami sekolah. Watdehel. Mimpi aja mulu lo na! LOL. Itu cuma jawaban praktis waktu si onyet sahabat gue nanya. :p Yang jelas lima tahun lagi gue udah jadi owner sebuah sekolah swasta, punya sekolah untuk anak nggak mampu, udah sukses menjalani bisnis sama sahbat-sahabat tercinta, udah jadi child's rights expert di KPAI gantiin kak Seto kalo ada anak korban perseteruan selebritis (yeah you wish! LOL), and owned a cafe! Hahaha. Beem ini mah yah. Duitnya aja dulu dikumpulin digentong. Yang jelas untuk menuju itu, gue harus berjuang merintis dari sekarang. Tahun ini. Seenggaknya ada perubahan sebelum 28. Ya sebelum 28.
Well. Only time will tell.
Yeaah!! Saatnya kaubuktikan pada dunia hasil kelayaban lo selama bertahun-tahun ini:))))) *sendirinyah...?!
ReplyDelete