Tuesday, July 8, 2014

bukan maksud ikut-ikutan menulis tentang pemilu

Entah pikiran saya lagi bener lately, atau memang hati nurani saya yang mulai bicara. Tapi ini pertama kalinya saya peduli soal politik. Bukan ikut-ikutan, atau karena trend sekarang semua lagi pada ngomongin pemilu, sama sekali nggak. Memang seperti ada yang menggerakkan saya untuk cari tahu lebih banyak mengenai pilpres 2014 ini. Setelah pemilihan legislatif dan presiden 2004 menjadi pemilihan pertama saya sebagai first-timer. Waktu itu sekedar 'disuruh' bokap dan euphoria karena itu pemilu pertama saya. 2009? Waktu itu saya sedang internship di Brussels, walau katanya pakai paspor bisa, saya terpaksa golput. Waktu itu cukup nyesel nggak bisa milih, tapi beberapa lama setelah yang lama itu ternyata menang dan menjadi presiden putaran kedua, saya malah mulai lega golput, karena kok nggak ada pembaruan. Well, legislatif kemaren pun saya acuh. Baru pilpres ini, saya tergerak lagi. 

Pilpres 2014 ini cukup menarik perhatian banyak kalangan ya. Dari orang tua, sampai anak muda. Yang bikin saya tertarik untuk mengetahui lebih dalam, ketika saya lihat anak-anak muda banyak yang ikut meramaikan untuk bikin pergerakan, atau buka-bukaan 'mengkampanyekan' pilihannya di sosial media. Dari Twitter sampai Path, sebulan dua bulan terakhir, everybody's talking about pilpres. Saya sendiri awalnya bodo amat, sampai legislatif kemarin pun cuek bebek. Nggak peduli. Sampai pada suatu ketika menjelang pilpres ini, ramai di Path. Saya tau calonnya cuma 2, dan dua-duanya saya nggak tertarik. Beneran. Yang satu, saya udah tahu banget soal masa lalunya, maklum bokap tentara. Yang satu lagi, saya nggak pernah tau perubahan apa yang ia buat di Jakarta karena selama beliau menjabat saya nggak pernah tinggal di Jakarta. Tapi sepupu-sepupu saya tiba-tiba mulai saling 'menyindir' karena pilihannya beda. Dari lucu-lucuan, sampai serang menyerang (secara sarkas tentu saja) dengan link, saya jadi membaca linknya satu-satu. Lama-lama perdebatan ini jadi menarik. Gara-gara itu saya jadi lumayan nyari dan lihat artikel-artikel mengenai keduanya. Saya jadi melek Twitter lagi. Saya jadi suka baca link dari salah satu seniman, yang pro 2. Disitu saya makin giat untuk cari tahu lebih banyak. Gong-nya waktu salah satu band yang paling banyak penggemarnya di Indonesia, pun, mendukung si 2. Didukung musisi-musisi lain juga. Sudah pecah. Saya cuma pikir, musisi saja yang tadinya nggak terlalu peduli, ini secara terang-terangan mendukung, apa spesialnya orang ini? Lagi-lagi saya banyak baca artikel sana sini.

Sampai hampir mendekati waktu, saya mulai ada kemajuan. Saya nggak mau golput. Saya mau menyuarakan suara saya tanpa dicurangi orang lain. Saya masih jadi pihak netral. 
Jujur saja, keluarga saya itu pro no.2. Keluarga inti saya, terutama. Bokap menjadi salah satu dari 22 orang purnawirawan TNI yang mendeklarasikan untuk pro no.2. Ditambah bokap itu satu suku sama cawapres. Udah, kelar. Nyokap? Nyokap dan keluarganya juga mendukung no. 2 karena mungkin melihat capres no. 2 ini terlihat sangat Jawa (iya nyokap kan Jawa), rendah hati, dan pemilihan subjektif lain karena cawapres no. 2 ini dulu sekali pernah membantu Eyang Kakung saya ketika sedang Haji, beliau sakit, dan mungkin kalau nggak ada si cawapres 2 ini, eyang nggak sah Hajinya. Gitu. Semua subjektif. Dan saya nggak mau milih karena itu semua. Tapi saya juga nggak mau pilih 1 dari awal, karena ya track record dia dulu. Saya jaman 98 emang masih SMP, tapi bokap pernah bercerita kurang lebih keadaan saat itu. Dan saya percaya. 

"Pa, tolong mintain surat pindah dari RT dong, biar aku bisa milih disini". Statement H-21 yang membuat bokap cukup kaget kayaknya. "Lho, mau milih?" "Iya". Padahal dia nggak tau saya mau coblos dua-duanya aja, yang penting suara nggak diambil. Sembari itu, saya masih terus melihat artikel-artikel mulai dari black campaign dan segala macam saksi-saksi yang bicara. Kelamaan, I feel sick. Saya jadi mulai ngeri sama pemberitaan-pemberitaan no.1. Semua orang juga nggak mau kembali ke OrBa. Untuk apa waktu itu kita bereformasi? Disitu saya mulai berangsur-angsur berpihak. Pakai hati. Saya mulai nonton debat capres cawapres, buka website-website yang memuat artikel dan video-video kampanye, dan masih memantau lewat twitter. Gong lainnya, konser 2 jari di GBK kemarin. Merinding nontonnya walau cuma lewat streaming. Semua orang support orang ini dengan suka rela! Peristiwa bersejarah yang kelak akan ada di buku sejarah Indonesia. Who knows?  Sampai artis-artis luar macam Sting, Jason Mraz, gitaris Guns n Roses pun mendukung lewat sosial media? Ini baru namanya pesta (demokrasi)! 'And I would be very happy to be part of this', pikir saya pada akhirnya.

Saya semakin yakin, ketika disuatu artikel ada yang bilang, capres no.2 ini membahas soal pentingnya pendidikan moral yang lebih signifikan di usia dini (PAUD) dibanding usia-usia lain, which is true kalau dilihat dari teori dan penelitian. Dan cawapres kemudian juga membahas (walau cuma di bagian closing statement dalam debat waktu itu) untuk membenarkan PAUD karena itu usia krusial anak (golden age) untuk tumbuh maksimal di kemudian hari. Sudahlah, saya luluh. Ditambah Anies Baswedan yang juga memihak pada kubu 2, confirmed sudah. 

Saya cuma mikir, saya udah capek sama dana pendidikan yang disedot terus-terusan. Segitu persenannya paling tinggi dari anggaran pemerintah, tapi nggak ada realisasinya, nggak ada. Saya cukup pengen noyor orang dari Mendikbud yang waktu itu saya temui lagi jalan-jalan di Italy. Salah satunya bilang, memang ada mereka ke Europe karena ada conference, tapi duit jalan-jalan pun didapat dari kantor. Dan segala macam cerita soal dana yang dipakai nggak semestinya. Sedih. 

Saya juga udah capek sama pemberitaan rakyat-rakyat miskin di pelosok yang nggak keurus. Saya bersyukur banget, saya masih diingatkan dan suka disentil Tuhan untuk 'melihat' orang-orang yang kurang mampu itu dengan iba. Ada kan, yang orang kaya, boro-boro lihat ke bawah, dia anggap Indonesia itu yang miskin angkat kaki aja. Sakit! Mereka itu nggak tau mungkin penduduk Indonesia kebanyakan ya orang yang hidup dalam taraf menengah kebawah. Dan saya yakin, si no.2 ini cukup punya hati nurani, yang bisa merangkul rakyat-rakyat kecil. 

Mungkin orang yang kenal saya dan baca ini bilang, apa sih Ina, sok serius. Tapi memang untuk urusan pendidikan dan rakyat miskin, di negeri ini udah nggak main-main. If only THEY know. Memang harus ada yang benerin. Saya bersyukur waktu saya lahir saya udah nggak ngerasain susah kayak bokap waktu baru hijrah ke Jakarta dari Makassar, dan akhirnya menikah. Saya lahir udah dapet senengnya aja, dan Alhamdulillah sampai sekarang. Tapi di-era semua udah punya gadget lebih dari satu, koneksi internet dimana-mana, pengetahuan gampang dicari, masih ada lho yang nggak punya akses untuk pendidikan. Boro-boro belajar, dia bantuin orang tua di sawah atau dagang demi bisa makan. Dan nggak semua orang, bisa tergerak. Nggak semua.

Jadi saya Bismillah dengan pilihan saya. Kebetulan pemilihan di KBRI Singapura sudah dilakukan duluan tanggal 6 Juli kemarin. Saya cukup bangga sama majunya sosial media, yang menggerakkan anak-anak muda untuk nggak golput, dan mudah-mudahan nggak netral. Saya lihat banyak banget anak muda yang ikut mengantri bareng kemaren. Sekarang kita semua peduli politik. Peduli masa depan bangsa ini. Well, yang masih masa bodo, semoga kalian masih punya hati nurani ya untuk bisa merubah nasib bangsa kita yang udah awur-awuran ini menjadi lebih baik :) 

Dan sebagai orang yang berkecimpung di dunia Psikologi, I agree, mental orang-orang Indonesia ini yang harus diubah. Karakteristik yang udah kelamaan dijajah, bikin kita nggak se-pede bangsa lain, insecure, minim kepercayaan. Dan itu harus diubah, dimulai dari diri sendiri. Kita harus sabar juga dalam pemerintahan selanjutnya, karena prioritas itu sebenarnya bukan kita, sebagai orang-orang yang sudah berpenghasilan cukup dan menikmati kota, tetapi rakyat kecil. Biarkan mereka rasakan "ditreat" oleh pemerintah duluan, dibanding kita. We can wait. Justru kita harus saling membantu untuk membuat negara kita lebih baik lagi, tolong menolong, sama seperti kita semua saling bahu membahu untuk mendukung capres kita masing-masing untuk bisa menjadi Presiden. It's people power, remember?

Kalau saya, mungkin sesimpel membuat hidup saya jadi lebih positif, sudahlah ya, udah 30, galau-galauannya dikurangin:p Mungkin dimulai dengan menghapus post-post yang 'aneh-aneh' dan labil haha. And I just want to be happy even more :)

Indonesia baru akan memilih besok. Semoga yang golput mau tergerak untuk sekedar memilih, dan yang netral pun akhirnya mau mendengarkan kata hati untuk mencoblos yang mana. 

May the best man for our country win.



ps.
Saya menulis ini juga untuk suatu saat nanti saya ingat dan bisa ceritakan ke anak-anak saya kelak.
Supaya mereka tahu sejarah, Ibu mereka pernah ada di masa perubahan Indonesia yang didorong oleh partisipasi segenap rakyat untuk negara yang lebih baik dimasa depan dan mereka lakukan bukan untuk uang, tetapi dengan ikhlas dan penuh antusias. And their ibu proud to be part of the history.


Saturday, May 17, 2014

what are you looking for?

x : lo travel a lot lately. what are you looking for sih?

y : i just need to find myself.

Tuesday, March 11, 2014

the old big classic word : love

Jadi, bulan lalu, temen "i need a cold beer, meet up?" sama "serius lo gamau baks?makanya ke tempat gue aja" gue di jerman ini mengirim pesan singkat, he'll gettin married soon. Ngga kaget sih, krn pacarannya udah lama. Tapi dulu sempet mereka ini kayak sebenernya males mikir kawin, hahaha. Eh ngakunya dulu gitu sih:p

Semalem terlibat obrol obrol random lagi via Twitter sm orang ini.

i : Kang, coba give me one word, untuk mendescribe, why you finally gettin married? Nah kan dorrr! Haha. Random question sih dari yang masih ga bs komitmen. Asik aah. LOL.

w : Well simply because our society won't accept us if we were not married. Oops, that was more than one word. If you insist in one word, i'd go with ol' big classic word: love

i : Nah itu dia! LOVE, the scariest word on earth sebetulnya! Gue blm siap disakitin atas nama cinta. Tsaah. Etapibener. Aposeh curhat. Kan ada yg bilang, the one you love the most will hurt you the most.

w : Bener banget! But still I rather love someone and probably hurt at the end, than regret at the end because I wasn't brave enough.

Gue pun terpaku. Sampe ketiduran sebenernya. Bingung bales apa. Mungkin dia tau, jeda ini kenapa. Sampai gue liat messagenya lagi pagi tadi.

"Absinthenya mau berapa yang 0.5 apa 1 liter?"

Teteup ujung2nya alkihil. LOL. This is for you kang! Endlich ya! Happy for you both. Semoga kita selalu bisa bahagia dengan cara masing2, walau ujung2nya harus tunduk sama apa yang society mau yes? Ohwell.

Terimakasih untuk tamparan hangatnya!

I wish I could be that brave someday and find someone as brave as you too!

Gue gatau deh orang ini dulu sih menyimak blog gue ntah skrg, whatever,

Congrats WR & AL! :)

Sunday, February 2, 2014

random kemarin

m : mungkin nantinya elo bakal ketemu sama orang yang bikin elo bertanya-tanya kok elo bisa sama dia. dan itu kadang bikin kaget, kok elo bisa sm dia.

i : iya ya?

m : elo tuh cuma butuh orang yang usaha banget buat dapetin elo, jd elonya yakin dan ga takut komitmen lagi.

i : asli kampret bener banget.

Wednesday, January 15, 2014

if i ever feel better - phoenix

Harus diposting nih, first concert of the year! And it was oosssooomm!
Bodo deh yang udah pernah nonton di jakarta pada bilang basi, kenyataannya that was the first time mereka main di sg, dan gue jadi saksinya! Tsaaah.

Ah thomas mars itu bikin pria skinny terlihat seksi dan hugable! Andai bisa seberuntung temen gue yang duduk dibawah bisa megang-megang dia tadi.

Selain karena ini konser perdana di tahun 2014, ini juga jadi pembuktian ke diri gue sendiri, i was fine! I am fine!

Waktu itu sempet kebat kebit gue bakal moodswing nih nontonnya. Kok bisa? Bisa banget! Gue pernah hampir bodoh gajadi nonton foo fighters karena ada masalah. Tapi untung gue paksa nonton. Nah makanya pas kemaren beli tiket misah sama temen karena sempet maju mundur. Akhirnya beli walau duduknya misah. Yaudah bomat lah. Sempet ragu kayak, gue repel ga ya? Well I knew Phoenix dari jaman 2004 di RK dulu, tapi setelah sekian lama, jaman di Sg kemarin belum dimana2 album barunya, ada orang yang ingetin gue lagi, untuk dengerin ini. Iya dimasa-masa senang waktu itu. Makanya kalo denger single dari album barunya bisa kepikiran lagi. Belum, orang itu pasti nonton di Jakarta. Makanya gue kemaren diajakin nemenin sahabat gue, gue nolak. No thanks! Ntar gue kecot! Hehe.

Jeng jeng dan emang harus bercerita ya banget malem itu. Random lagi. Dimulai dari pas janjian sama temen gue, kita makan dulu nih. Tapi tempatnya full. Sampe ada cowok manggil gue, dengan baik hati bersedia shared his place sama gue, dan temen gue. Ngobrol sambil nunggu temen gue ngantri beli makanan. Kebaca sih cowok ini mau nonton phoenix juga. Sepertinya seru, dan orangnya nyerocos aja gitu baru kenal ngomongin musik dll. Sampai pas ngga berapa lama setelah temen gue dateng dan gue konsen denger curhat temen gue soal lifesucks-nya, gue baru sadar, ada cincin dijari manis cowok itu. Ohwell. Jadilah walau masih ngobrol2, diakhir perjumpaan gue cuma bilang "have fun!" bahkan tanpa tanya namanya.

Yang kedua, karena gue misah dan jadi sendirian duduknya, gue cukup terkesima sama takdir yang mempertemukan gue sama perempuan melayu disebelah gue, yang ternyata sendirian pun! Kita ngobrol seru karena tipe musiknya hampir mirip pun. Kayak faith aja, diantara yang berpasangan disebelah2 kami, kita sampingan dan sama2 sendirian. Histeris pun sama, pas mulai main. Diakhiri dengan tukeran nomer, fb dan ig.

Temen gue sampe komen, gue kayak liat lo make a friend tadi diatas, tadi juga di tempat makan (cowok yang tadi gue ceritain). Harinini tema lo lagi make  new friends ya? -__-"

Jadilah gue sedikit lupa sama kaitan konser ini dan ceritalalu gue. Yah kecuali ada satu lagu yang waktu itu dia yang kasihtau duluan. But I smiled. ;)

Kalo soal performance-nya sih nggak usah ditanyain ya. Membius! Tsah. Semua rikues lagu gue dinyanyiin, halelujah! Pokoknya, awesome first concert of 2014! Enough said. Dan gue happy mereka masih menyanyikan If I Ever Feel Better! Theme song jaman kuliah dan masa-masa nggak 'better'. Ahsedap.

Gue seneng. Bisa lewatin yang gue takutin bakal drama hati seperti biasa, gue baik-baik aja. :)



Monday, December 30, 2013

selamat tahun baru, kamu.

malam tahun baru. lima jam lagi. sambil menunggu bus, saya mencoba menghiraukan dingin yang menggigit dan angin yang menerpa kencang di wajah. saya mengambil telepon selular dari tas dan mendial nomor yang sudah sering keluar di last call saya. seseorang yang berada puluhan ribu kilometer disana, yang saya ingin sekali dengar suaranya.

"hey, happy new year!"
"hey makasih. happy new year! kamu belum ya?"
"lima jam lagi hehe. yaudah aku cuma mau telpon buat bilang itu. happy new year skali lagi! i love you."
"i love you too"

telepon tertutup. kembali saya masukkan hp saya kedalam tas dengan susah payah, karena gloves saya yang terlalu tebal.
saya tersenyum. sambil terpikir, tak perlu obrolan panjang lebar untuk dimaknai. hanya perlu sama-sama tahu kalau rasanya sama. itu saja.

tahun demi tahun berganti. hal baru datang. tapi setiap malam pergantiannya, saya tak pernah lupa untuk me-recall otak saya untuk memutar scene malam itu. sampai sekarang. selalu. karena baru saya sadari, perasaan malam itu membuat ada rasa senang menyambut tahun baru , membuat saya optimis akan harapan untuk tahun lebih baik didepan sana.

selamat tahun baru.

Monday, December 2, 2013

sekedar cerita

Entah kenapa, Tuhan lagi baik sama saya beberapa waktu belakangan. Dalam berbagai hal. Percikan-percikan kesenangan yang tak terduga datang. Yang saya sempat pikir, "ah mana mungkin", ternyata kejadian. Entah apa makna dibaliknya.
Apa takdir sedang menyenang-nyenangkan saya dengan hal-hal lain, untuk memberi tahu "walau ada yang hilang, everything will be fine, nih gue kasih kesenangan baru lain".
Atau justru...saya sedang diberi sinyal, kalau, ada hal-hal yang menurut daya pikir manusia, itu nggak mungkin kejadian. But hey, liat sendiri, bisa kejadian juga kan di hidup lo?
Saya masih nggak tahu. Harus menunggu, mungkin, untuk tahu alasannya?
Saya sekarang cuma perlu menikmati apa yang ada, bersyukur, dan yang pasti menyadari lagi, everything happens for a reason. Period.